cinta yang transendental
bukan cinta yang dimediasi oleh satu aliran
tapi justru menyatukan semua aliran dan golongan
menjadi suatu kekuatan yang tanpa batas.
yaitu Cinta.
Selasa, 03 Maret 2009
Corat-coret Stasiun Jakartakota
Dan ketika semua orang bertanya-tanya,
sesekali aku tak akan berkata-kata
Di stasiun jakartakota ini tertimbun sejuta makna,
yang selalu berkata-kata tanpa berbicara.
satu jam hanya semenit terasa.
kesibukan dan keramaian yang selalu menyimpan duka.
sesekali aku ingin selalu berkata-kata,
dan bertanya-tanya kepada semua.
St Jakartakota
26 Februari 2009
sesekali aku tak akan berkata-kata
Di stasiun jakartakota ini tertimbun sejuta makna,
yang selalu berkata-kata tanpa berbicara.
satu jam hanya semenit terasa.
kesibukan dan keramaian yang selalu menyimpan duka.
sesekali aku ingin selalu berkata-kata,
dan bertanya-tanya kepada semua.
St Jakartakota
26 Februari 2009
Senin, 09 Februari 2009
Sepi
Dan sampai ketika waktuku harus mati nanti
aku mau hanya kau yang menangisi.
Bukan mereka, mereka yang tidak dan takkan pernah mengerti itu..
Sekali lagi aku ingin hanya kau. Tidak yang lain..
aku mau hanya kau yang menangisi.
Bukan mereka, mereka yang tidak dan takkan pernah mengerti itu..
Sekali lagi aku ingin hanya kau. Tidak yang lain..
Selasa, 03 Februari 2009
untuk SAT-POL PP
Dari mata-mata di wajah-wajah itu
Tergambar jelas resah dan penat
Rutinitas dan kewajiban yang menyerang setiap saat
Pacuan mereka hanya waktu, waktu dan waktu
Orang-orang yang dikalahkan
Oleh bajingan, pengusaha, atau keduanya
Tanpa dedikasi mengabdi pada tuan-tuannya
Semua karena kelaparan yang mematikan
Musuh-musuh mereka adalah kepasrahan
Bergerak dengan kekerasan
Bekerja tanpa kenikmatan
Bagai kotak musik murahan
Seragam kebesaran selalu digunakan
Untuk menghancurkan dan “membereskan”
Menyerah pada kebutuhan-kebutuhan
Nurani sementara disembunyikan
Salah sistemnya, salah penguasanya
Salah kita juga
Zaman apa sekarang ini?
Anjing, ini 2009 kan bung?
Era apa sekarang ini?
Anjing-anjing ini kog bisa dipertahankan?
Kelapa Gading
3 Februari 2009
Tergambar jelas resah dan penat
Rutinitas dan kewajiban yang menyerang setiap saat
Pacuan mereka hanya waktu, waktu dan waktu
Orang-orang yang dikalahkan
Oleh bajingan, pengusaha, atau keduanya
Tanpa dedikasi mengabdi pada tuan-tuannya
Semua karena kelaparan yang mematikan
Musuh-musuh mereka adalah kepasrahan
Bergerak dengan kekerasan
Bekerja tanpa kenikmatan
Bagai kotak musik murahan
Seragam kebesaran selalu digunakan
Untuk menghancurkan dan “membereskan”
Menyerah pada kebutuhan-kebutuhan
Nurani sementara disembunyikan
Salah sistemnya, salah penguasanya
Salah kita juga
Zaman apa sekarang ini?
Anjing, ini 2009 kan bung?
Era apa sekarang ini?
Anjing-anjing ini kog bisa dipertahankan?
Kelapa Gading
3 Februari 2009
Rabu, 28 Januari 2009
selamat ulang tahun
ada hutang yang belum tuntas dalam hidup
yang selalu kita bawa keliling dunia
ada urusan yang tidak pernah selesai
sampai tiba waktu untuk mengakhiri semuanya
perubahan selalu diperlukan
karena pergerakan tak mungkin kita hempaskan
sekali waktu kita inginkan
lain waktu tidak kita harapkan
usia hanya sebuah tanda
yang tidak mungkin kita tinggalkan
orang lain boleh tertawa
tapi hanya kita yang sanggup merasakan
semua hutang akan lunas terpuaskan
segala perubahan akan menjadi kebiasaan
karena pergerakan bukan suatu pembatasan
selamat ulang tahun,
semoga usia yang bertambah
bisa mendewasakan
dan mendekatkan pada harapan.
amin.
yang selalu kita bawa keliling dunia
ada urusan yang tidak pernah selesai
sampai tiba waktu untuk mengakhiri semuanya
perubahan selalu diperlukan
karena pergerakan tak mungkin kita hempaskan
sekali waktu kita inginkan
lain waktu tidak kita harapkan
usia hanya sebuah tanda
yang tidak mungkin kita tinggalkan
orang lain boleh tertawa
tapi hanya kita yang sanggup merasakan
semua hutang akan lunas terpuaskan
segala perubahan akan menjadi kebiasaan
karena pergerakan bukan suatu pembatasan
selamat ulang tahun,
semoga usia yang bertambah
bisa mendewasakan
dan mendekatkan pada harapan.
amin.
Selasa, 27 Januari 2009
Kapal Dangdut, Kapten Oma Karam Diterjang Zaman
Popularitas Oma Irama ternyata memiliki warna yang berbeda seiring dengan waktu yang berjalan. Jika anak muda pada masa ini lebih mengenal Oma dengan sosoknya sebagai Bang Haji, pada masa keemasan karirnya, Oma justru dikenal sebagai musisi besar dan menyandang predikat “superstar”. Mungkin ini pula yang mengawali predikat berikutnya yaitu sebagai raja dangdut.
Konsistensi dan perjuangan yang tidak kenal lelah dalam menyuarakan dangdut sebagai “voice of moslem” (1973) membuat Oma begitu dikenal dan dipuja oleh berbagai kalangan. Garda baru Oma dibentuk melalui sugesti sosio –musik jutaan massa masyarakat kampung, pedesaan dan golongan populis yang menjadi mayoritas masyarakat Indonesia (Suka Hardjana : 2004). Popularitas tidak lantas membuatnya terlena. Semangat “Voice of Moslem” itu justru semakin dikembangkan nya dengan media visual, Oma mulai bermain dalam banyak film-film yang menurutnya tanpa sadar justru semakin melambungkan popularitasnya. Dalam lagu-lagu ciptaannya, Oma juga banyak memasukkan unsur-unsur kritik sosial misalnya Begadang, Perjuangan dan Doa, Kiamat, Rupiah dsb.
Dalam suatu kesempatan, Prof. Dr. Bill Frederick dari Ohio university yang melakukan riset tentang kebudayaan Indonesia selama 6 tahun pernah membandingkan Oma Irama dengan John Lennon dan Mick Jagger dan cukup memberikan hasil yang mengagetkan. Menurut Bill, Oma Irama lebih baik daripada keduanya, jika John Lennon menjadi legenda bersama The Beatles, dan Mick Jagger menjadi bintang panggung bersama Rolling Stones, maka Oma Irama selain mempunyai penggemar yang begitu banyak, ternyata juga mempunyai begitu banyak “pengikut” yang sangat setia (Surat kabar Buana Minggu, 24 Juni 1984). Hal ini diperkuat lagi oleh kenyataan bahwa setidaknya Bill berhasil menarik kesimpulan berdasarkan risetnya bahwa penggemar Oma setidaknya 15 juta kepala (Surat Kabar Berita Buana, 25 Juli 1984).
Oma Irama, mencampurkan musik irama Melayu dengan instrument musik barat. Pada awalnya, inilah yang disebut oleh berbagai kalangan sebagai musik dangdut karena bunyi kendang yang menonjol (“ndang” dan “ndut”). Oma sendiri setuju dengan sebutan musik dangdut, dia bahkan telah menciptakan sebuah lagu yang diberi judul “Dangdut”.
Nyatanya, musik yang semula dianggap kampungan ini mampu membesarkan nama Oma. Di usia tuanya, Oma memang terlibat dalam berbagai kontroversi seperti kasus Inul Daratista, kampanye politik, Angel Elga dan hal-hal lain seputar kehidupan pribadinya.
Mungkin agak berlebihan jika aura kebintangan seseorang dianggap bisa bertahan sampai saat usia senjanya. Kenyataan nya, dangdut justru memang kurang dihargai di kalangan masyarakat kelas atas di negerinya sendiri. tapi sebagai seniman, musisi ataupun sebagai penikmat musik, selayaknya generasi muda bangsa ini harus menghargai jerih payah generasi tua dalam membangun suatu kejayaan musik genre dangdut. karena seperti kata sebuah grup musik, Dangdut is the music of my country. Dan tentu kita juga yang bersalah jika suatu saat ada Negara lain yang mengklaim sebagai pemilik tunggal Dangdut.
Kelapa Gading
27 Januari 2009
Konsistensi dan perjuangan yang tidak kenal lelah dalam menyuarakan dangdut sebagai “voice of moslem” (1973) membuat Oma begitu dikenal dan dipuja oleh berbagai kalangan. Garda baru Oma dibentuk melalui sugesti sosio –musik jutaan massa masyarakat kampung, pedesaan dan golongan populis yang menjadi mayoritas masyarakat Indonesia (Suka Hardjana : 2004). Popularitas tidak lantas membuatnya terlena. Semangat “Voice of Moslem” itu justru semakin dikembangkan nya dengan media visual, Oma mulai bermain dalam banyak film-film yang menurutnya tanpa sadar justru semakin melambungkan popularitasnya. Dalam lagu-lagu ciptaannya, Oma juga banyak memasukkan unsur-unsur kritik sosial misalnya Begadang, Perjuangan dan Doa, Kiamat, Rupiah dsb.
Dalam suatu kesempatan, Prof. Dr. Bill Frederick dari Ohio university yang melakukan riset tentang kebudayaan Indonesia selama 6 tahun pernah membandingkan Oma Irama dengan John Lennon dan Mick Jagger dan cukup memberikan hasil yang mengagetkan. Menurut Bill, Oma Irama lebih baik daripada keduanya, jika John Lennon menjadi legenda bersama The Beatles, dan Mick Jagger menjadi bintang panggung bersama Rolling Stones, maka Oma Irama selain mempunyai penggemar yang begitu banyak, ternyata juga mempunyai begitu banyak “pengikut” yang sangat setia (Surat kabar Buana Minggu, 24 Juni 1984). Hal ini diperkuat lagi oleh kenyataan bahwa setidaknya Bill berhasil menarik kesimpulan berdasarkan risetnya bahwa penggemar Oma setidaknya 15 juta kepala (Surat Kabar Berita Buana, 25 Juli 1984).
Oma Irama, mencampurkan musik irama Melayu dengan instrument musik barat. Pada awalnya, inilah yang disebut oleh berbagai kalangan sebagai musik dangdut karena bunyi kendang yang menonjol (“ndang” dan “ndut”). Oma sendiri setuju dengan sebutan musik dangdut, dia bahkan telah menciptakan sebuah lagu yang diberi judul “Dangdut”.
Nyatanya, musik yang semula dianggap kampungan ini mampu membesarkan nama Oma. Di usia tuanya, Oma memang terlibat dalam berbagai kontroversi seperti kasus Inul Daratista, kampanye politik, Angel Elga dan hal-hal lain seputar kehidupan pribadinya.
Mungkin agak berlebihan jika aura kebintangan seseorang dianggap bisa bertahan sampai saat usia senjanya. Kenyataan nya, dangdut justru memang kurang dihargai di kalangan masyarakat kelas atas di negerinya sendiri. tapi sebagai seniman, musisi ataupun sebagai penikmat musik, selayaknya generasi muda bangsa ini harus menghargai jerih payah generasi tua dalam membangun suatu kejayaan musik genre dangdut. karena seperti kata sebuah grup musik, Dangdut is the music of my country. Dan tentu kita juga yang bersalah jika suatu saat ada Negara lain yang mengklaim sebagai pemilik tunggal Dangdut.
Kelapa Gading
27 Januari 2009
Minggu, 11 Januari 2009
Untuk Robert "Rocky" Balboa
Hidup hanya hampa tanpa suara
jelas tanpa harta
kau bekerja hanya dengan otot dan tenaga
tak perlu memakai kata-kata
Dollar demi dollar untuk sebatang rokok
hari demi hari untuk seorang wanita
Hidup hanya kucuran keringat dan tenaga
jelas tanpa boneka
kau bercinta dengan dia
kau lepas kaca matanya
Kau pekerja keras, tak sudi melempar handuk putih
hanya untuk sebuah persahabatan
Petinju berhati kapas
sampai ketika cinta tak perlu lagi pembuktian
kasih sayang selalu ada di baris depan
hanya satu lawanmu yang tak terkalahkan
usia
Jika ada kesempatan lagi
kami ingin kau terlahir kembali
sebagai dirimu yang asli
ROCKY
Depok
Januari 2009
jelas tanpa harta
kau bekerja hanya dengan otot dan tenaga
tak perlu memakai kata-kata
Dollar demi dollar untuk sebatang rokok
hari demi hari untuk seorang wanita
Hidup hanya kucuran keringat dan tenaga
jelas tanpa boneka
kau bercinta dengan dia
kau lepas kaca matanya
Kau pekerja keras, tak sudi melempar handuk putih
hanya untuk sebuah persahabatan
Petinju berhati kapas
sampai ketika cinta tak perlu lagi pembuktian
kasih sayang selalu ada di baris depan
hanya satu lawanmu yang tak terkalahkan
usia
Jika ada kesempatan lagi
kami ingin kau terlahir kembali
sebagai dirimu yang asli
ROCKY
Depok
Januari 2009
untitled
Sampai satu ketika aku berhenti
Setengah sadar
Aku sampai ke suatu masa
Masa dimana sekelilingku hanya ada dosa
Tak ada tumpukan harta
Semuanya tak bisa bicara
Lalu aku ingin mereka mengerti
Atau setidaknya tahu
Aku tidak pernah lagi
Berdoa untuk diri sendiri
Kelapa Gading
11 Januari 2009
Sekitar Pk 18.10
Setengah sadar
Aku sampai ke suatu masa
Masa dimana sekelilingku hanya ada dosa
Tak ada tumpukan harta
Semuanya tak bisa bicara
Lalu aku ingin mereka mengerti
Atau setidaknya tahu
Aku tidak pernah lagi
Berdoa untuk diri sendiri
Kelapa Gading
11 Januari 2009
Sekitar Pk 18.10
Sabtu, 03 Januari 2009
Permenungan : awal dan akhir
Yang pertama dan yang terakhir
selamanya tak akan terpisahkan
yang satu tak mungkin hidup
tanpa yang lain nya
sesungguhnya manusia harus sadar
bahwa yang terakhir justru introduksi
dan yang pertama menjadi epilog yang indah
Sejarah Cina dimulai dengan dinasti
lalu diakhiri dengan dinasti
Revolusi Indonesia diawali dengan pergerakan
lalu diakhiri dengan pergerakan
Kemerdekaan dimulai dengan kolonialisme
lalu diakhiri dengan kolonialisasi
Bagaimana dengan hati nurani?
semua orang berteriak dan memberontak
maka berakhir dengan teriakan dan pemberontakan
semangat untuk memulai
harus berangkat dan disertai semangat juga
semangat untuk mengakhiri
semangat mengusung hati nurani rakyat
semangat untuk bergerak menuju Indonesia raya
semangat untuk berdemokrasi dengan perjuangan
semangat untuk menjadi negara demokrat
harus berangkat dari semangat bertanggung jawab
kepada rakyat
Lalu apakah yang memulai
yang pertama, yang mengawali
itu harus menjadi yang terakhir berdiri?
Introduksi dan epilog juga dilakukan J.P.Coen di Batavia
tetapi dia tidak berdiri di saat terakhir.
Cirebon,
Hari pertama dan kedua th 2009
selamanya tak akan terpisahkan
yang satu tak mungkin hidup
tanpa yang lain nya
sesungguhnya manusia harus sadar
bahwa yang terakhir justru introduksi
dan yang pertama menjadi epilog yang indah
Sejarah Cina dimulai dengan dinasti
lalu diakhiri dengan dinasti
Revolusi Indonesia diawali dengan pergerakan
lalu diakhiri dengan pergerakan
Kemerdekaan dimulai dengan kolonialisme
lalu diakhiri dengan kolonialisasi
Bagaimana dengan hati nurani?
semua orang berteriak dan memberontak
maka berakhir dengan teriakan dan pemberontakan
semangat untuk memulai
harus berangkat dan disertai semangat juga
semangat untuk mengakhiri
semangat mengusung hati nurani rakyat
semangat untuk bergerak menuju Indonesia raya
semangat untuk berdemokrasi dengan perjuangan
semangat untuk menjadi negara demokrat
harus berangkat dari semangat bertanggung jawab
kepada rakyat
Lalu apakah yang memulai
yang pertama, yang mengawali
itu harus menjadi yang terakhir berdiri?
Introduksi dan epilog juga dilakukan J.P.Coen di Batavia
tetapi dia tidak berdiri di saat terakhir.
Cirebon,
Hari pertama dan kedua th 2009
Minggu, 28 Desember 2008
Sekali lagi untuk Astuti
Keramaian dalam sebuah perayaan menyimpan sebuah pesan
Ketika lima orang tertawa dan lima orang sudah terbiasa
kita tidak lagi bisa merasa kasihan
sebuah perasaan cinta
Keramaian dalam sebuah perayaan menyimpan sebuah harapan
tentang tawa, cinta, dan semua air mata bahagia
Orang boleh mencerca, tapi hati tetap bisa selalu berbicara
mengecap rasa cinta
Kehilangan adalah kegelapan dan kekeringan adalah sebuah tanda
makna yang hilang dalam sebuah perayaan menyingkirkan kebahagiaan
Ketika manusia merindukan bulan
tak seorang kan membantu
kita boleh saja bertingkah mengejar
tapi bulan tetap jauh tinggi di atas.
Tapi ada sebuah kata yang tak pernah terlupa
sebuah kata yang selalu ingin kuucapkan padanya.
sebuah kata "cinta"
Kita tak pernah tahu ada apa di garis terakhir
dan hanya bisa berdoa
untuk mengucapkan nya dengan rasa
Rangkaian kata terakhir
Aku cinta padanya
sekarang dan sampai nyawa berakhir.
28 Desember 2008
sekitar Pk 16.40
Ketika lima orang tertawa dan lima orang sudah terbiasa
kita tidak lagi bisa merasa kasihan
sebuah perasaan cinta
Keramaian dalam sebuah perayaan menyimpan sebuah harapan
tentang tawa, cinta, dan semua air mata bahagia
Orang boleh mencerca, tapi hati tetap bisa selalu berbicara
mengecap rasa cinta
Kehilangan adalah kegelapan dan kekeringan adalah sebuah tanda
makna yang hilang dalam sebuah perayaan menyingkirkan kebahagiaan
Ketika manusia merindukan bulan
tak seorang kan membantu
kita boleh saja bertingkah mengejar
tapi bulan tetap jauh tinggi di atas.
Tapi ada sebuah kata yang tak pernah terlupa
sebuah kata yang selalu ingin kuucapkan padanya.
sebuah kata "cinta"
Kita tak pernah tahu ada apa di garis terakhir
dan hanya bisa berdoa
untuk mengucapkan nya dengan rasa
Rangkaian kata terakhir
Aku cinta padanya
sekarang dan sampai nyawa berakhir.
28 Desember 2008
sekitar Pk 16.40
Sabtu, 20 Desember 2008
Sedikit tinjauan tentang Buku-buku tentang revolusi,, heh??
Masa revolusi di Indonesia selalu menjadi kontroversi.
Ilmu sejarah (lepas dari doktrin postmodernisme) selalu menawarkan gairah bagi sejarawan
untuk terus berkarya. Tidak terkecuali periodisasi masa revolusi.
Unik, pada masa-masa awalnya revolusi di Indonesia kurang mendapat atensi yang cukup.
Maka George McTurnan Kahin melakukan studi rintisan yang cukup mendalam
tentang masa revolusi di Indonesia.
Karya sejarawan ini tentang revolusi di Indonesia merangsang para sejarawan
lain seperti Benedict Anderson(muridnya), Antony Reid, bahkan Robert Bridson Cribb.
Buku Kahin sebagai salah satu buku "wajib" tentang sejarah revolusi Indonesia
berjudul "Nationalism and Revolution in Indonesia" itu bercerita panjang tentang sifat
nasionalisme yang menjadi akar gerakan revolusi tersebut. Kahin mengatakan bahwa revolusi yang terjadi erat kaitannya dengan sifat homogenitas agama di Indonesia (agama Islam). Metodologi naratif yang diaplikasikan dalam buku tersebut membuat hasil tulisan nya banyak dijadikan rujukan bagi sejarawan lain. Buku yang sampai sekarang masih relevan (terbit di Indonesia sekitar tahun 1959) inilah yang menarik perhatian seorang muridnya untuk melihat dan menampulkan revolusi di Indonesia dari perspektif yang berbeda yang semakin melengkapi historiografi Indonesia.
Dialah Benedict Anderson, murid Kahin yang melakukan studi tentang revolusi di Indonesia yang akhirnya berhasil menuliskan salah satu karya fenomenal dengan judul "revolusi pemuda" (1944-1946). Buku ini memuat sanggahan atas karya Kahin yang mengatakan bahwa revolusi tersebut justru banyak dipengaruhi oleh golongan muda, dan masa revolusi ini adalah masa ketika peran pemuda sangat menentukan disamping tentu tidak terlepas dari golongan tua yang masih memegang kursi kepemimpinan. Lepas dari semua perdebatan mereka tentang revolusi, Antony Reid justru tertarik untuk mencoba menggambarkan revolusi itu secara keseluruhan. Maksudnya, Reid disini memaparkan revolusi sebagai suatu kejadian yang scope nya nasional, kenegaraan. Maka ia menulis dengan bertumpu pada aksi nasional yang didukung oleh aksi aksi yang bersifat kedaerahan. Aksi-aksi lokal memang punya pengaruh dan andil besar dalam aksi revolusi nasional secara keseluruhan. Inilah yang Reid tawarkan dengan bukunya.
Salah satu aksi revolusi yang merupakan pergerakan lokal kedaerahan diangkat oleh Robert Bridson Cribb. "Gejolak Revolusi Jakarta" judul bukunya sudah tentu mengarahkan pola pikir setiap pembaca untuk bertumpu pada wilayah ibukota, Jakarta. Disini Cribb banyak menjabarkan tentang permasalahan otonomi dan hegemoni serta aksi-aksi revolusi di Jakarta. Pergerakan lokal ini menjadi bagian integral dalam sejarah Revolusi Nasional Indonesia
(Cribb : 1991) Dan uniknya, Cribb disini menggunakan metode oral history.
Direvisi dari sebuah laporan singkat
dalam historiografi Indonesia.
oleh : Tyson
Kelapa Gading
20 Des 2008
Pk 11.25
Ilmu sejarah (lepas dari doktrin postmodernisme) selalu menawarkan gairah bagi sejarawan
untuk terus berkarya. Tidak terkecuali periodisasi masa revolusi.
Unik, pada masa-masa awalnya revolusi di Indonesia kurang mendapat atensi yang cukup.
Maka George McTurnan Kahin melakukan studi rintisan yang cukup mendalam
tentang masa revolusi di Indonesia.
Karya sejarawan ini tentang revolusi di Indonesia merangsang para sejarawan
lain seperti Benedict Anderson(muridnya), Antony Reid, bahkan Robert Bridson Cribb.
Buku Kahin sebagai salah satu buku "wajib" tentang sejarah revolusi Indonesia
berjudul "Nationalism and Revolution in Indonesia" itu bercerita panjang tentang sifat
nasionalisme yang menjadi akar gerakan revolusi tersebut. Kahin mengatakan bahwa revolusi yang terjadi erat kaitannya dengan sifat homogenitas agama di Indonesia (agama Islam). Metodologi naratif yang diaplikasikan dalam buku tersebut membuat hasil tulisan nya banyak dijadikan rujukan bagi sejarawan lain. Buku yang sampai sekarang masih relevan (terbit di Indonesia sekitar tahun 1959) inilah yang menarik perhatian seorang muridnya untuk melihat dan menampulkan revolusi di Indonesia dari perspektif yang berbeda yang semakin melengkapi historiografi Indonesia.
Dialah Benedict Anderson, murid Kahin yang melakukan studi tentang revolusi di Indonesia yang akhirnya berhasil menuliskan salah satu karya fenomenal dengan judul "revolusi pemuda" (1944-1946). Buku ini memuat sanggahan atas karya Kahin yang mengatakan bahwa revolusi tersebut justru banyak dipengaruhi oleh golongan muda, dan masa revolusi ini adalah masa ketika peran pemuda sangat menentukan disamping tentu tidak terlepas dari golongan tua yang masih memegang kursi kepemimpinan. Lepas dari semua perdebatan mereka tentang revolusi, Antony Reid justru tertarik untuk mencoba menggambarkan revolusi itu secara keseluruhan. Maksudnya, Reid disini memaparkan revolusi sebagai suatu kejadian yang scope nya nasional, kenegaraan. Maka ia menulis dengan bertumpu pada aksi nasional yang didukung oleh aksi aksi yang bersifat kedaerahan. Aksi-aksi lokal memang punya pengaruh dan andil besar dalam aksi revolusi nasional secara keseluruhan. Inilah yang Reid tawarkan dengan bukunya.
Salah satu aksi revolusi yang merupakan pergerakan lokal kedaerahan diangkat oleh Robert Bridson Cribb. "Gejolak Revolusi Jakarta" judul bukunya sudah tentu mengarahkan pola pikir setiap pembaca untuk bertumpu pada wilayah ibukota, Jakarta. Disini Cribb banyak menjabarkan tentang permasalahan otonomi dan hegemoni serta aksi-aksi revolusi di Jakarta. Pergerakan lokal ini menjadi bagian integral dalam sejarah Revolusi Nasional Indonesia
(Cribb : 1991) Dan uniknya, Cribb disini menggunakan metode oral history.
Direvisi dari sebuah laporan singkat
dalam historiografi Indonesia.
oleh : Tyson
Kelapa Gading
20 Des 2008
Pk 11.25
Rabu, 17 Desember 2008
sajak untuk Astuti??
Tantanglah mataku
kecup mesra bibirku
dan seluruh hidupku
hanya untukmu
selalu
Takkan hatiku pergi
tinggalkan jauh perih di hati
Teringat kecup mesra yang tadi
Terbakar perih alir darah di nadi
mmmmmuuuuuuuaaaacccchhhhh,,,,
Kuberikan cinta ini
hanya untukmu kasih
Ardiyanthi..
atau,
atau,
Atau Astuti??
Kelapa gading
18 Desember 2008
sekitar Pk 09.30
kecup mesra bibirku
dan seluruh hidupku
hanya untukmu
selalu
Takkan hatiku pergi
tinggalkan jauh perih di hati
Teringat kecup mesra yang tadi
Terbakar perih alir darah di nadi
mmmmmuuuuuuuaaaacccchhhhh,,,,
Kuberikan cinta ini
hanya untukmu kasih
Ardiyanthi..
atau,
atau,
Atau Astuti??
Kelapa gading
18 Desember 2008
sekitar Pk 09.30
Selasa, 09 Desember 2008
Sajak cinta pertama untuk Astuti,,
Pagi itu pertama kita berjumpa
Di depan ribuan judul buku,
ketika warna kemeja senada dengan angkasa
kita saling berpandang,
ketika ku semakin bergetar tak mampu berkata
aku tenggelam dalam cinta
tapi kita tidak bicara.
Hati penuh genderang nafsu tak berirama.
Seperti Charles Swan,
aku ikuti terus bayang bayangmu
Kujadikan kau permaisuri dalam kerajaan khayalku
Sampai aku berani berkenalan denganmu,
juga disaksikan ribuan judul buku
Astuti namamu,
Tapi tak kusangka
aku temukan fakta,
ada si dia yang merantau ke negeri tetangga.
aku kecewa
aku merana
Tak rela aku berbagi Astuti.
tapi apa daya,
aku
bukan siapa-siapa
Kelapa Gading
9 Desember 2008
Sekitar Pk 00.05
Di depan ribuan judul buku,
ketika warna kemeja senada dengan angkasa
kita saling berpandang,
ketika ku semakin bergetar tak mampu berkata
aku tenggelam dalam cinta
tapi kita tidak bicara.
Hati penuh genderang nafsu tak berirama.
Seperti Charles Swan,
aku ikuti terus bayang bayangmu
Kujadikan kau permaisuri dalam kerajaan khayalku
Sampai aku berani berkenalan denganmu,
juga disaksikan ribuan judul buku
Astuti namamu,
Tapi tak kusangka
aku temukan fakta,
ada si dia yang merantau ke negeri tetangga.
aku kecewa
aku merana
Tak rela aku berbagi Astuti.
tapi apa daya,
aku
bukan siapa-siapa
Kelapa Gading
9 Desember 2008
Sekitar Pk 00.05
Selasa, 25 November 2008
Pergulatan di Atas Jamban*
Hancur hilang musnah sudah
Sudah hilang hancur musnah
Pergi jauh tak berbekas
Jauh pergi berbekas hampa
cukup dengan duduk saja
Hapus buang kertas bergincu
Lepas bebas pekat mengganggu
Dalam tubuh dalam daging bernyawa
Dalam daging hampa terhempas
cukup dengan duduk saja
Lariiiiiiiiiiii,,,,,,,
Cuciiiiiiiiii,,,
Hapuskan semua beban.
Tinggalkan semua bimbang
cukup dengan duduk saja
Kelapa Gading
22 Nov 08
Pk 15.25
*sajak ini untuk buletin sejarah di FIB UI Depok
Sudah hilang hancur musnah
Pergi jauh tak berbekas
Jauh pergi berbekas hampa
cukup dengan duduk saja
Hapus buang kertas bergincu
Lepas bebas pekat mengganggu
Dalam tubuh dalam daging bernyawa
Dalam daging hampa terhempas
cukup dengan duduk saja
Lariiiiiiiiiiii,,,,,,,
Cuciiiiiiiiii,,,
Hapuskan semua beban.
Tinggalkan semua bimbang
cukup dengan duduk saja
Kelapa Gading
22 Nov 08
Pk 15.25
*sajak ini untuk buletin sejarah di FIB UI Depok
Karakter-Karakter yang Mengisi Toilet*
Jakarta : Di tebing Ciliwung yang busuk dan Rusak, terkadang ada burung, terkadang kupu-kupu. Warna-warna yang tak diacuhkan…… Saya kira semuanya mungkin. Tuhan mencipta. Ia tak merancang. (Goenawan Mohamad)
Di tebing Ciliwung yang sekarang sudah menjadi salah satu tempat paling hina di kota yang paling megah ini, ternyata (menurut Goenawan Mohamad) masih bisa dijumpai sebuah kehidupan indah yang bukan lagi milik manusia. Burung dan kupu-kupu. Makhluk inilah yang mempunyai kegembiraan dan keceriaan yang menemani anak-anak manusia tidak berdosa yang terlahir dari keluarga yang tinggal di bantaran sungai itu. Ciliwung adalah sungai paling terkenal di ibukota. Orang bilang, Ciliwung membelah kota Jakarta menjadi dua. Ciliwung bukan toilet umum, Ciliwung bukan jamban, tetapi aktivitas yang seharusnya dilakukan di toilet umum dan jamban, dilakukan juga di Ciliwung. Untuk memahami “fenomena” Ciliwung itu, perlu adanya suatu pemahaman tentang karakter manusia para pengguna toilet pada umumnya. “Toilet” dan “umum”, dua kata yang jika disatukan akan membentuk ruangan yang secara imajiner bisa tercium dalam pikiran kita. “toilet umum” adalah tempat umum yang digunakan untuk urusan pembuangan. Namun persoalan nya adalah karakter pembuang kotoran itu berbeda-beda.
Untuk mempersempit ruang penelitian, dalam tulisan saya payungi pembahasan kita hanya pada toilet umum pria saja. Karakter pertama adalah orang yang cuek. Pria ini tidak terlalu peduli apakah pintu toilet terbuka atau tertutup ketika ia buang air kecil. Ia bahkan dengan seenaknya membuang ludah pada urinoir tempat dia sekaligus buang air seni di saat yang sama. Tidak hanya itu, ia bahkan tidak sempat mencuci tangan ketika merapihkan rambut di kaca toilet umum tersebut. Karakter kedua adalah pria yang cukup memperhatikan kebersihan. Ia mencuci tangan setiap kali buang air kecil, lalu mengambil kertas tissue untuk lap tangan, lalu membuang nya ke tempat sampah yang telah disediakan. Lalu karakter ketiga adalah pria yang sangat religius. Ia tidak mau buang air seni di urinoir. Alasan nya, tentu saja karena ketika menggunakan urinoir, ia kesulitan ketika mencuci alat kelamin nya. Akhirnya pria ini memilih kloset duduk atau jongkok yang terletak di dalam ruang kecil.Mungkin ini hanyalah klasifikasi kasar yang tidak fundamental, namun begitu rasanya cukup beralasan jika toilet disebut sebagai suatu yang useful and universal. Semua karakter menggunakan toilet untuk sesuatu yang sama. Tidak peduli Ras, agama, ataupun usia dan status sosial, semua menjadi satu di dalam Toilet umum. Semuanya itu terkonsentrasi ke dalam satu saluran yang universal. Universalitas ini harus dibanggakan, mengingat manusia yang beraneka ragam itu ternyata (dengan tidak disadari langsung oleh mereka sendiri) telah bersatu di dalam satu saluran pembuangan melalui satu pintu, toilet umum. Mungkin tidak ada persatuan dalam partai, Negara, ataupun organisasi di luar toilet umum yang sebagus dan se solid persatuan kotoran mereka di dalam toilet umum. Dalam sebuah toilet umum, sering terdapat kaca yang digunakan untuk berias. Kaca digunakan juga untuk konotasi berefleksi diri, herhalen, mengulang lagi dan mengingat kembali apa yang telah kita capai atau kita lakukan dalam hidup. Ini merupakan salah satu aspek yang tak terselampai, didapat dalam kekosongan ketika manusia sedang dalam kesepian dan mungkin kesendirian.
Renungan toilet, adalah sesuatu yang sangat privasi. Tapi dalam toilet umum ternyata ada penghuni tetap yang selalu ada di tempatnya. Ini karakter keempat yang merupakan pria yang sangat berdedikasi pada pekerjaan. Dia sangat menjaga kebersihan, menyiapkan segala keperluan seperti tissue dan kelengkapan cuci lain. Dialah penjaga toilet umum. Dalam kesendirian dan permenungan dia bisa memperoleh penghasilan yang meskipun sangat kecil namun bisa menyokong ongkos hidupnya, menyambung hari demi hari. Suatu karakter dalam toilet seperti ini seakan menandai kejamnya Jakarta dan kejamnya penduduk Jakarta yang notabene telah secara langsung dan tidak langsung juga telah merusak Ciliwung. Namun begitu, karakter seperti penjaga toilet justru menunjukkan juga sisi positif adanya kemauan untuk bekerja. Tidak hanya meminta namun ada kemauan bekerja. Seseorang di pinggir pantai dalam kondisi normal ibaratnya seharusnya lebih senang diberi kail dan jala daripada hanya diberi ikan.
Terlalu banyak hal yang mendukung operasi toilet umum. Ternyata tidak hanya di Ciliwung saja ada kehidupan damai burung dan kupu-kupu tapi juga di toilet umum. Kotoran yang dipersatukan dalam satu saluran itu menunjukkan sekali lagi bahwa manusia dalam ketelanjangan dan kesendirian sebagai individu itu tidaklah bisa dibeda-bedakan. Semua manusia itu setara dan sederajat. Yang membedakan mungkin jabatan nya, usianya, jenis kelamin nya, status sosialnya, ras nya, atau agamanya tetapi di dalam satu ruangan permenungan, satu ruangan yang tidak tak tersentuh itu, ruangan suci yang tidak bisa menutupi kebohongan itu, semua manusia dianggap sama. Dipersatukan kotoran nya, dan tidak ada lagi klasifikasi sosial. Lalu selalu ada satu sudut dalam pikiran kita tentang suatu objek yang dipikirkan. Sebuah komparatif naratif yang akan selalu mengganggu pikiran apalagi ketika menyentuh hasrat intelektualitas kita. Pikiran kita akan bertanya, apakah kita yang seharusnya merawat dan mencintai toilet di kampus kita ini tega merusak, mengotori atau dengan seronok merokok di dalam ruang toilet yang useful dan universal itu? Jika tega, apakah kita tega juga terhadap burung dan kupu-kupu yang seharusnya hidup damai di toilet seperti di Ciliwung? Kita sering lupa saudaraku, bahwa tanpa ruang-ruang toilet itu kita akan selalu kerepotan.
*tulisan untuk buletin sejarah FIB UI Depok.
Di tebing Ciliwung yang sekarang sudah menjadi salah satu tempat paling hina di kota yang paling megah ini, ternyata (menurut Goenawan Mohamad) masih bisa dijumpai sebuah kehidupan indah yang bukan lagi milik manusia. Burung dan kupu-kupu. Makhluk inilah yang mempunyai kegembiraan dan keceriaan yang menemani anak-anak manusia tidak berdosa yang terlahir dari keluarga yang tinggal di bantaran sungai itu. Ciliwung adalah sungai paling terkenal di ibukota. Orang bilang, Ciliwung membelah kota Jakarta menjadi dua. Ciliwung bukan toilet umum, Ciliwung bukan jamban, tetapi aktivitas yang seharusnya dilakukan di toilet umum dan jamban, dilakukan juga di Ciliwung. Untuk memahami “fenomena” Ciliwung itu, perlu adanya suatu pemahaman tentang karakter manusia para pengguna toilet pada umumnya. “Toilet” dan “umum”, dua kata yang jika disatukan akan membentuk ruangan yang secara imajiner bisa tercium dalam pikiran kita. “toilet umum” adalah tempat umum yang digunakan untuk urusan pembuangan. Namun persoalan nya adalah karakter pembuang kotoran itu berbeda-beda.
Untuk mempersempit ruang penelitian, dalam tulisan saya payungi pembahasan kita hanya pada toilet umum pria saja. Karakter pertama adalah orang yang cuek. Pria ini tidak terlalu peduli apakah pintu toilet terbuka atau tertutup ketika ia buang air kecil. Ia bahkan dengan seenaknya membuang ludah pada urinoir tempat dia sekaligus buang air seni di saat yang sama. Tidak hanya itu, ia bahkan tidak sempat mencuci tangan ketika merapihkan rambut di kaca toilet umum tersebut. Karakter kedua adalah pria yang cukup memperhatikan kebersihan. Ia mencuci tangan setiap kali buang air kecil, lalu mengambil kertas tissue untuk lap tangan, lalu membuang nya ke tempat sampah yang telah disediakan. Lalu karakter ketiga adalah pria yang sangat religius. Ia tidak mau buang air seni di urinoir. Alasan nya, tentu saja karena ketika menggunakan urinoir, ia kesulitan ketika mencuci alat kelamin nya. Akhirnya pria ini memilih kloset duduk atau jongkok yang terletak di dalam ruang kecil.Mungkin ini hanyalah klasifikasi kasar yang tidak fundamental, namun begitu rasanya cukup beralasan jika toilet disebut sebagai suatu yang useful and universal. Semua karakter menggunakan toilet untuk sesuatu yang sama. Tidak peduli Ras, agama, ataupun usia dan status sosial, semua menjadi satu di dalam Toilet umum. Semuanya itu terkonsentrasi ke dalam satu saluran yang universal. Universalitas ini harus dibanggakan, mengingat manusia yang beraneka ragam itu ternyata (dengan tidak disadari langsung oleh mereka sendiri) telah bersatu di dalam satu saluran pembuangan melalui satu pintu, toilet umum. Mungkin tidak ada persatuan dalam partai, Negara, ataupun organisasi di luar toilet umum yang sebagus dan se solid persatuan kotoran mereka di dalam toilet umum. Dalam sebuah toilet umum, sering terdapat kaca yang digunakan untuk berias. Kaca digunakan juga untuk konotasi berefleksi diri, herhalen, mengulang lagi dan mengingat kembali apa yang telah kita capai atau kita lakukan dalam hidup. Ini merupakan salah satu aspek yang tak terselampai, didapat dalam kekosongan ketika manusia sedang dalam kesepian dan mungkin kesendirian.
Renungan toilet, adalah sesuatu yang sangat privasi. Tapi dalam toilet umum ternyata ada penghuni tetap yang selalu ada di tempatnya. Ini karakter keempat yang merupakan pria yang sangat berdedikasi pada pekerjaan. Dia sangat menjaga kebersihan, menyiapkan segala keperluan seperti tissue dan kelengkapan cuci lain. Dialah penjaga toilet umum. Dalam kesendirian dan permenungan dia bisa memperoleh penghasilan yang meskipun sangat kecil namun bisa menyokong ongkos hidupnya, menyambung hari demi hari. Suatu karakter dalam toilet seperti ini seakan menandai kejamnya Jakarta dan kejamnya penduduk Jakarta yang notabene telah secara langsung dan tidak langsung juga telah merusak Ciliwung. Namun begitu, karakter seperti penjaga toilet justru menunjukkan juga sisi positif adanya kemauan untuk bekerja. Tidak hanya meminta namun ada kemauan bekerja. Seseorang di pinggir pantai dalam kondisi normal ibaratnya seharusnya lebih senang diberi kail dan jala daripada hanya diberi ikan.
Terlalu banyak hal yang mendukung operasi toilet umum. Ternyata tidak hanya di Ciliwung saja ada kehidupan damai burung dan kupu-kupu tapi juga di toilet umum. Kotoran yang dipersatukan dalam satu saluran itu menunjukkan sekali lagi bahwa manusia dalam ketelanjangan dan kesendirian sebagai individu itu tidaklah bisa dibeda-bedakan. Semua manusia itu setara dan sederajat. Yang membedakan mungkin jabatan nya, usianya, jenis kelamin nya, status sosialnya, ras nya, atau agamanya tetapi di dalam satu ruangan permenungan, satu ruangan yang tidak tak tersentuh itu, ruangan suci yang tidak bisa menutupi kebohongan itu, semua manusia dianggap sama. Dipersatukan kotoran nya, dan tidak ada lagi klasifikasi sosial. Lalu selalu ada satu sudut dalam pikiran kita tentang suatu objek yang dipikirkan. Sebuah komparatif naratif yang akan selalu mengganggu pikiran apalagi ketika menyentuh hasrat intelektualitas kita. Pikiran kita akan bertanya, apakah kita yang seharusnya merawat dan mencintai toilet di kampus kita ini tega merusak, mengotori atau dengan seronok merokok di dalam ruang toilet yang useful dan universal itu? Jika tega, apakah kita tega juga terhadap burung dan kupu-kupu yang seharusnya hidup damai di toilet seperti di Ciliwung? Kita sering lupa saudaraku, bahwa tanpa ruang-ruang toilet itu kita akan selalu kerepotan.
*tulisan untuk buletin sejarah FIB UI Depok.
Senin, 10 November 2008
Renungan
Yang sekuler dan yang religiSelamanya akan tetap jadi dua hal.Banyak perselisihan justru hanya karena soal kecil.Saya teringat tentang pernyataan Afrizal Malna,“sesuatu Indonesia”Dan memang terbukti, di dalam Indonesia ituBanyak terdapat “sesuatu”, bahkan Indonesia sendiri Adalah “sesuatu”.Ketika sastrawan Perancis, Balzac pernah bilangBahwa Jawa adalah suatu yang indah, makaJawa adalah “sesuatu”Zaman sekarang memang sulit untuk ditebak.Kata Goenawan Mohamad, banyak orang bersaing Menyuarakan kesolehan lewat pengeras suara,Ini juga “sesuatu”Yang sekuler dan religi tentu sulit ditemui Selamanya (kalau mungkin) akan sulit bersatu.Karena yang sekuler itu adalah “sesuatu”Dan sudah jelasYang religi itu ternyata juga adalah “sesuatu”
Kelapa Gading
9 November 2008
Pk 21.17
Kelapa Gading
9 November 2008
Pk 21.17
10 November 1866
10 November 1866, ketika Batavia masih sepi (setidaknya dibandingkan dengan sekarang). Pada tanggal ini di Batavia 142 tahun yang lalu, pangeran muda
Duc de Penthieve datang ke pulau Jawa.
Ia diikuti oleh Comte de Beauvoir yang menulis catatan perjalanan sehari di Batavia,
Yang menggambarkan suasanan Batavia yang ternyata jauh dari masa kini.
Saya jadi terbayang sejuknya Jakarta (Batavia) masa itu tentu jauh dari hari ini. Mungkin seperti Bogor di masa sekarang. Tapi itu sudah berlalu 142 tahun yang lalu.
Tentu banyak sekali perubahan dari masa pengeran muda itu datang.
Tapi bukankah harusnya ada nilai-nilai “kesejukan” yang bisa kita bawa dari keteraturan, ketentraman Batavia 1866 untuk kita nikmati di hari ini?
Mungkin lebih baik hidup tenteram dalam aroma kolonialisme,
Atau lebih nyaman hidup komunal dengan masyarakat tanpa kelas,
Daripada merdeka tapi menjadi budak neo-kapitalisme dan imperialisme.
Seharusnya kita bebas memilih.
Kelapa Gading
10 November 2008
Pk 19.41
Duc de Penthieve datang ke pulau Jawa.
Ia diikuti oleh Comte de Beauvoir yang menulis catatan perjalanan sehari di Batavia,
Yang menggambarkan suasanan Batavia yang ternyata jauh dari masa kini.
Saya jadi terbayang sejuknya Jakarta (Batavia) masa itu tentu jauh dari hari ini. Mungkin seperti Bogor di masa sekarang. Tapi itu sudah berlalu 142 tahun yang lalu.
Tentu banyak sekali perubahan dari masa pengeran muda itu datang.
Tapi bukankah harusnya ada nilai-nilai “kesejukan” yang bisa kita bawa dari keteraturan, ketentraman Batavia 1866 untuk kita nikmati di hari ini?
Mungkin lebih baik hidup tenteram dalam aroma kolonialisme,
Atau lebih nyaman hidup komunal dengan masyarakat tanpa kelas,
Daripada merdeka tapi menjadi budak neo-kapitalisme dan imperialisme.
Seharusnya kita bebas memilih.
Kelapa Gading
10 November 2008
Pk 19.41
Rabu, 22 Oktober 2008
Menanti Sang Bidadari
Burung-burung itu masih lantang bernyanyi
Memecah kejamnya kesunyian pagi hari
Patung-patung dan gua belum terlihat jelas
Karena matahari belum berubah terik mengganas
Obrolan manusia beradu keras dengan dengung mesin AC
Membuat kesejukan pagi terasa cepat pergi menjauh
Tong-tong sampah masih berwarna kuning
Dan manusia tetap tidak tega membuang ke dalamnya
Lantai-lantai licin yang baru dicuci
Dirusak lagi oleh sepatu wanita yang tidak berhati
Kesendirian ditemani oleh sebatang rokok,
Berisiknya gantungan kunci dan manusia-manusia berdosa
Yang merusak suasana Depok yang asli
Aku berteriak mencari
Bidadari dari Nagasaki
6 Oktober 2008
Selasar Gd VI FIB UI, Depok
Sekitar Pk 07.05
Memecah kejamnya kesunyian pagi hari
Patung-patung dan gua belum terlihat jelas
Karena matahari belum berubah terik mengganas
Obrolan manusia beradu keras dengan dengung mesin AC
Membuat kesejukan pagi terasa cepat pergi menjauh
Tong-tong sampah masih berwarna kuning
Dan manusia tetap tidak tega membuang ke dalamnya
Lantai-lantai licin yang baru dicuci
Dirusak lagi oleh sepatu wanita yang tidak berhati
Kesendirian ditemani oleh sebatang rokok,
Berisiknya gantungan kunci dan manusia-manusia berdosa
Yang merusak suasana Depok yang asli
Aku berteriak mencari
Bidadari dari Nagasaki
6 Oktober 2008
Selasar Gd VI FIB UI, Depok
Sekitar Pk 07.05
Jumat, 10 Oktober 2008
Untitled
Hatiku tercecer dalam perjalanan rutin
Antara Depok-Jakarta
Ada ibu-ibu menagih setoran iba
Di lantai stasiun kereta
Diiringi anak-anak berlari kesana kemari
Mencari serpihan harta
Aku melangkah lunglai
Melalui pemulung yang mengais rezeki
Di tong tong sampah
Kutunggu kereta dating
Membawa gelandangan yang menyapu lantainya
Di kecepatan 100 km/jam
Dan kudapati pengemis memohon uang seribuan
sambil menangis
Aku turun dan kujumpai
Pria paruh baya menawarkan jasa
Angkutan roda dua
Separuh nyawa menjadi konsekuensinya
Aku menangis
Ketika di jalan lain kudapati
Gadis itu telah berubah dan
Pindah ke lain hati
Aku hanya bisa berpikir,
Berpikir lagi, lalu kutuliskan,
Menulis lagi, lagi, dan hanya
Menulis lagi
Karena aku menulis agar mereka tau
Aku berteriak di dalam hati.
Jumat 10 Oktober 08
Dalam perjalanan Depok-Jakarta
Sekitar Pk 18.30
Antara Depok-Jakarta
Ada ibu-ibu menagih setoran iba
Di lantai stasiun kereta
Diiringi anak-anak berlari kesana kemari
Mencari serpihan harta
Aku melangkah lunglai
Melalui pemulung yang mengais rezeki
Di tong tong sampah
Kutunggu kereta dating
Membawa gelandangan yang menyapu lantainya
Di kecepatan 100 km/jam
Dan kudapati pengemis memohon uang seribuan
sambil menangis
Aku turun dan kujumpai
Pria paruh baya menawarkan jasa
Angkutan roda dua
Separuh nyawa menjadi konsekuensinya
Aku menangis
Ketika di jalan lain kudapati
Gadis itu telah berubah dan
Pindah ke lain hati
Aku hanya bisa berpikir,
Berpikir lagi, lalu kutuliskan,
Menulis lagi, lagi, dan hanya
Menulis lagi
Karena aku menulis agar mereka tau
Aku berteriak di dalam hati.
Jumat 10 Oktober 08
Dalam perjalanan Depok-Jakarta
Sekitar Pk 18.30
Kamis, 09 Oktober 2008
Separatisme Berkedok Budaya di Indonesia
Separatisme pada umumnya diartikan oleh masyarakat kita sebagai bentuk paham yang memecah belah atau memisahkan kelompok tertentu dari kesatuannya. Namun demikian, yang terjadi tampaknya separatisme terwujud tanpa disadari oleh masyarakat. Seringkali berbagai hal yang mengancam persatuan dan kesatuan bangsa dalam arti luas terjadi atas alasan tertentu, misalnya konflik etnis, sosial, politik, agama dan tentu saja semua itu terkait dengan budaya bangsa ini. Lalu timbul pertanyaan dalam pikiran saya, apakah benar separatisme telah menjadi budaya bangsa kita?
Separatisme sudah tentu menjadi momok bagi perjalanan bangsa kita dalam menghadapi tantangan globalisasi. Sulit dibayangkan ketika begitu hebatnya “serbuan” intervensi asing masuk ke Indonesia, kita justru sedang sibuk mengatasi masalah dan konflik-konflik intern yang mengancam persatuan dan kesatuan bangsa. Kita harus mulai mencari penyelesaian yang efektif sehingga tidak perlu berlarut-larut “melawan” rakyat sendiri yang seharusnya bekerjasama menghadapi masa depan. Sangat disesali, selama ini bangsa kita tampaknya tidak dibekali dengan moral dan karakter yang baik. Dalam hal ini, banyak sekali contoh yang bisa kita lihat dan buktikan sendiri.
Dewasa ini kita dipaksa untuk semakin menyadari bahwa selain bangsa ini terpuruk dalam bidang ekonomi, sosial, dan bahkan teknologi, kita juga telah gagal dalam hal pembangunan moral dan karakter manusia Indonesia. Saya pikir ini menjadi salah satu akar dari masalah separatisme yang berkedok budaya di Indonesia. Ditambah lagi kelangkaan figur seorang negarawan sejati di Indonesia amat kita sesali mengingat betapa pentingnya kepemimpinan yang baik dalam menghadapi tantangan global di masa yang akan datang. Dalam arti sempit, kita kesulitan mencari orang yang sungguh-sungguh kompeten dalam menjalankan pemerintahan.
Ironis memang, bahwa pemerintah kita sekarang justru sibuk dengan penanganan bencana alam, kasus Lapindo yang sudah semakin berlarut-larut, pemilihan calon presiden tahun 2009 dan beragam hal lainnya yang memecahkan konsentrasi pembangunan bangsa. Menjadi sangat menyedihkan karena hal ini membawa masyarakat ke jurang kemiskinan yang lebih dalam dan membuat rakyat kecil semakin terperosok. Tidak mengherankan jika kasus-kasus separatisme sangat mudah terjadi di Negara yang sedang dalam kondisi seperti ini.
Sementara itu, tampaknya kita masih sangat sulit menghapus “mental jajahan” yang masih ada dalam diri kita. Kita masih bertindak layaknya seperti manusia-manusia yang dijajah oleh bangsa lain. Kita masih selalu menurut pada penguasa, kita masih terlalu mudah setuju dengan kebijakan pemilik modal yang mementingkan dirinya sendiri dan selalu hormat pada orang-orang yang kuat secara materi. Harus diakui, banyak dari kita orang muda negeri ini yang memandang materi sebagai pusat penghormatan. Kita dijajah oleh pemodal asing. “Mental jajahan” ini memang sulit sekali diperbaiki karena bangsa ini terlalu lama dijajah oleh bangsa asing. Mental seperti ini tentu sangat mempengaruhi perilaku kita. Kita dengan mudah terpengaruh oleh godaan-godaan semu yang menggiurkan yang kita dapatkan dari tindakan separatis. Inilah bahayanya, penjajahan di Indonesia sekarang serupa tapi tak sama dengan masa kolonial.
Menengok sejarah Indonesia, separatisme selalu identik dengan kekerasan dan konflik sosial. Pada umumnya, konflik-konflik antar agama misalnya ataupun yang mengatas namakan agama di Indonesia selalu berujung pada keinginan merdeka atau melepaskan diri dari Negara kesatuan Republik Indonesia. Belanda memanfaatkan situasi bangsa kita. Banyak sekali bukti dalam sejarah yang menyatakan bahwa perselisihan antar kerajaan di nusantara justru diakhiri dengan Belanda sebagai ”pemenang”. Dalam perselisihan agama, GusDur, mantan presiden ke-4 Indonesia berpendapat bahwa masalah pokok dalam hubungan antar umat beragama adalah pengembangan rasa saling pengertian yang tulus dan berkelanjutan. Kita hanya akan mampu menjadi bangsa yang kukuh kalau umat agama-agama yang berbeda dapat saling mengerti satu sama lain,bukan hanya sekedar saling menghormati. Yang diperlukan adalah rasa saling memiliki (sense of belonging), bukannya hanya saling bertenggang rasa satu terhadap yang lain. Ternyata kemudian, saya masih belum mendapatkan jawaban, apakah separatisme telah menjadi budaya di bangsa kita?
Separatisme sudah tentu menjadi momok bagi perjalanan bangsa kita dalam menghadapi tantangan globalisasi. Sulit dibayangkan ketika begitu hebatnya “serbuan” intervensi asing masuk ke Indonesia, kita justru sedang sibuk mengatasi masalah dan konflik-konflik intern yang mengancam persatuan dan kesatuan bangsa. Kita harus mulai mencari penyelesaian yang efektif sehingga tidak perlu berlarut-larut “melawan” rakyat sendiri yang seharusnya bekerjasama menghadapi masa depan. Sangat disesali, selama ini bangsa kita tampaknya tidak dibekali dengan moral dan karakter yang baik. Dalam hal ini, banyak sekali contoh yang bisa kita lihat dan buktikan sendiri.
Dewasa ini kita dipaksa untuk semakin menyadari bahwa selain bangsa ini terpuruk dalam bidang ekonomi, sosial, dan bahkan teknologi, kita juga telah gagal dalam hal pembangunan moral dan karakter manusia Indonesia. Saya pikir ini menjadi salah satu akar dari masalah separatisme yang berkedok budaya di Indonesia. Ditambah lagi kelangkaan figur seorang negarawan sejati di Indonesia amat kita sesali mengingat betapa pentingnya kepemimpinan yang baik dalam menghadapi tantangan global di masa yang akan datang. Dalam arti sempit, kita kesulitan mencari orang yang sungguh-sungguh kompeten dalam menjalankan pemerintahan.
Ironis memang, bahwa pemerintah kita sekarang justru sibuk dengan penanganan bencana alam, kasus Lapindo yang sudah semakin berlarut-larut, pemilihan calon presiden tahun 2009 dan beragam hal lainnya yang memecahkan konsentrasi pembangunan bangsa. Menjadi sangat menyedihkan karena hal ini membawa masyarakat ke jurang kemiskinan yang lebih dalam dan membuat rakyat kecil semakin terperosok. Tidak mengherankan jika kasus-kasus separatisme sangat mudah terjadi di Negara yang sedang dalam kondisi seperti ini.
Sementara itu, tampaknya kita masih sangat sulit menghapus “mental jajahan” yang masih ada dalam diri kita. Kita masih bertindak layaknya seperti manusia-manusia yang dijajah oleh bangsa lain. Kita masih selalu menurut pada penguasa, kita masih terlalu mudah setuju dengan kebijakan pemilik modal yang mementingkan dirinya sendiri dan selalu hormat pada orang-orang yang kuat secara materi. Harus diakui, banyak dari kita orang muda negeri ini yang memandang materi sebagai pusat penghormatan. Kita dijajah oleh pemodal asing. “Mental jajahan” ini memang sulit sekali diperbaiki karena bangsa ini terlalu lama dijajah oleh bangsa asing. Mental seperti ini tentu sangat mempengaruhi perilaku kita. Kita dengan mudah terpengaruh oleh godaan-godaan semu yang menggiurkan yang kita dapatkan dari tindakan separatis. Inilah bahayanya, penjajahan di Indonesia sekarang serupa tapi tak sama dengan masa kolonial.
Menengok sejarah Indonesia, separatisme selalu identik dengan kekerasan dan konflik sosial. Pada umumnya, konflik-konflik antar agama misalnya ataupun yang mengatas namakan agama di Indonesia selalu berujung pada keinginan merdeka atau melepaskan diri dari Negara kesatuan Republik Indonesia. Belanda memanfaatkan situasi bangsa kita. Banyak sekali bukti dalam sejarah yang menyatakan bahwa perselisihan antar kerajaan di nusantara justru diakhiri dengan Belanda sebagai ”pemenang”. Dalam perselisihan agama, GusDur, mantan presiden ke-4 Indonesia berpendapat bahwa masalah pokok dalam hubungan antar umat beragama adalah pengembangan rasa saling pengertian yang tulus dan berkelanjutan. Kita hanya akan mampu menjadi bangsa yang kukuh kalau umat agama-agama yang berbeda dapat saling mengerti satu sama lain,bukan hanya sekedar saling menghormati. Yang diperlukan adalah rasa saling memiliki (sense of belonging), bukannya hanya saling bertenggang rasa satu terhadap yang lain. Ternyata kemudian, saya masih belum mendapatkan jawaban, apakah separatisme telah menjadi budaya di bangsa kita?
Langganan:
Postingan (Atom)
